in

Kongres Bahasa Jawa VI 2016

Akan menggelar pentas berbagai kesenian jawa di sepanjang Malioboro

Kongres Bahasa Jawa VI 2016

Kongres Bahasa Jawa (KBJ) merupakan sebuah kegiatan lima tahunan yang melibatkan tiga provinsi di Pulau Jawa, yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kongres Bahasa Jawa di tahun 2016, merupakan kongres yang ke-enam. DIY dipercaya menjadi tuan rumah dalam kegiatan yang akan diselenggarakan pada 8 hingga 12 November 2016 mendatang ini.

Sekretaris 3 Kongres Bahasa Jawa VI, Vishnu Satyagraha mengatakan, kongres saat ini mengambil tema “Basa Jawa Triwikrama”, dengan subtema “Pengoptimalan Peran Bahasa dan Sastra Jawa di Kabupaten dan Kota yang Berakarkan Budaya Jawa untuk Memperkuat Kebudayaan Nasional”. Triwikarama di sini dimaknai sebagai gerakan reformasi. Melalui KBJ VI, masyarakat Jawa harus mampu membangunkan segala kekuatan untuk mereformasi permasalahan yang dihadapi masyarakat Jawa, berkaitan dengan kondisi bahasa Jawa yang selama ini telah mengecilkan debit budaya Jawa.

“Kongres yang keenam ini berbeda dengan lima kongres sebelumnya. Kongres sekarang lebih riil dan bisa dilaksanakan. Strateginya lebih nyata dan bahasa Jawa bisa bertahan di era globalisasi,” kata Vishnu di Kantor Dinas Kebudayaan DIY.

Ia melanjutkan, hasil dari lima kongres sebelumnya hanya berhenti dalam romantisme-romantisme bahasa Jawa, dan sedikit sulit untuk direalisasikan terhadap kehidupan saat ini. Dalam kongres tersebut nantinya akan dihadirkan puluhan pemakalah yang dibagi menjadi empat jenis pemakalah, yaitu pemakalah kunci, pemakalah utama, pemakalah khusus dan pekalahan umum. Setiap pemakalahan akan menyampaikan topiknya masing-masing. Seperti pemakalah kunci diisi oleh mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Anies Rasyid Baswedan, yang membawakan topik tentang kebijakan pemerintah dalam pengoptimalan peran kebudayaan daerah untuk memperkuat kebudayaan nasional.

“Sementara untuk pemakalah utama sendiri akan diisi oleh gubernur masing-masing provinsi dan tentunya dengan membawakan topik yang berbeda. Untuk pemakalah khusus sendiri akan diisi oleh bupati atau walikota yang ditunjuk pemerintah daerah provinsi masing-masing dengan kekhasan dialek wilayahnya,” ujarnya.

Bagi pemakalah umum sendiri dijelaskan Vishnu diperuntukan untuk siapapun yang menaruh kepeduliannya terhadap bahasa dan sastra Jawa, dan bersedia menyumbangkan pemikirannya sesuai dengan subtema. Pemakalah itupun diharuskan untuk mengumpulkan makalah yang akan dipresentasikan saat kongres. Setelah dilakukan pengumpulan, pihak panitia akan menyeleksi pemakalah umum yang dapat menyampaikan isi makalahnya.

“Untuk pesertanya sendiri tentunya dari ketiga provinsi tersebut, Jatim, Jateng dan DIY. Kami tidak mengundang, namun membuka pendaftaran bagi para peserta yang ingin mengikuti kongres,” papar Kepala Bidang Sejarah, Sastra dan Bahasa Dinas Kebudayaan DIY, Erlina Hidayati.

Leave a Reply