in

Plengkung Kraton Yogyakarta

Mengenal Peninggalan Bersejarah 5 Gerbang Menuju Kraton Jogja

Plengkung Kraton Yogyakarta

PLENGKUNG atau gerbang menuju kerajaan penting keberadaannya bagi Kraton Yogyakarta. Dahulu pintu ini menjadi akses utama masyarakat untuk memasuki kraton yang dikelilingi tembok benteng besar. Kraton Yogyakarta memiliki lima plengkung, namun seiring perkembangannya gerbang ini sekarang tinggal dua saja yang masih utuh, sedangkan tiga lainnya telah berubah dari bentuk aslinya. Walau telah hilang namun keberadaan bangunan bersejarah tersebut tetap masih bisa terlihat.

Bangunan inti kraton dibentengi dengan tembok ganda setinggi 3,5 meter berbentuk bujur sangkar (1.000 x 1.000 meter). Sehingga untuk memasukinya harus melewati pintu gerbang yang disebut plengkung. Ada lima pintu gerbang yaitu Plengkung Tarunasura atau Plengkung Wijilan di sebelah Timur Laut kraton; Plengkung Jogosuro atau Plengkung Ngasem di sebelah Barat Daya; Plengkung Joyoboyo atau Plengkung Tamansari di sebelah Barat; Plengkung Nirboyo atau Plengkung Gading di sebelah Selatan; Plengkung Tambakboyo atau Plengkung Gondomanan di sebelah Timur.

PLENGKUNG NIRBAYA
Dari kelima plengkung yang ada, Plengkung Nirbaya merupakan bangunan terbesar dan paling utuh yang saat ini masih bisa ditemui. Plengkung ini juga sering disebut sebagai Plengkung Gading karena terletak di daerah Gading. Berada di sebelah sebelah selatan Alun-alun Kidul, Nirbaya berasal dari kata ‘Nir’ yang berarti tidak ada dan ‘baya’ berarti bahaya. Jika diterjemahkan dalam bahasa harfiah Jawa maka Nirbaya berarti tidak ada bahaya yang mengancam. Konon siapapun Sultan yang tengah bertahta dilarang untuk melintasi Plengkung Nirbaya ini selama hidupnya. Pasalnya Gerbang Nirbaya dijadikan pintu keluar bagi jenazah Sultan dan keluarganya ketika hendak dimakamkan menuju ke Imogiri.

PLENGKUNG TARUNASURA
Plengkung ini juga sering disebut Plengkung Wijilan karena berada di daerah Wijilan, Kelurahan Panembahan, Kecamatan Kraton, Yogyakarta. Plengkung Tarunasura terletak di sebelah timur Alun-alun Utara dan menjadi jalur utama lalu-lintas kendaraan. Dinamakan Tarunosuro karena dulu pintu ini berisikan prajurit-prajurit muda yang menjaganya. Plengkung Tarunosuro masih untuh bangunannya, walau tembok beteng di kiri dan kanannya sudah hilang dan berubah jadi pemukiman warga.

PLENGKUNG JAGASURA
Gerbang Jagasura terletak di sebelah barat Alun-alun Utara. Bentuknya Plengkung Jagasura sudah tak utuh lagi dan tinggal menyerupai gapura biasa saja. Jagasura asal kata dari ‘Jaga’ berarti menjaga dan ‘Sura’ yang artinya pemberani. Jagasura berarti pasukan pemberani, dahulu gerbang ini dijaga oleh pasukan-pasukan Mataram yang gagah dan tegas.

PLENGKUNG MADYASURA
Terletak di sisi timur Kraton Yogyakarta (mantrigawen), Plengkung ini ditutup pada 23 Juni 1812. Oleh karena itu Plengkung Madyasura juga dikenal dengan Plengkung Buntet alias tertutup. Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, plengkung tersebut dibongkar dan kemudian diganti dengan gerbang gapura biasa.

PLENGKUNG JAGABAYA
Gerbang ini terletak di sisi barat tembok benteng Kraton Yogyakarta, di sebelah barat pasar Ngasem dan Tamansari. Plengkung ini juga sering disebut Plengkung Tamansari karena letaknya yang berada di kawasan Tamansari. Jagabaya berarti menjaga dari marabahaya, dalam bahasa Jawa ‘Jaga’ berarti menjaga dan ‘Baya’ berarti bahaya. Kondisi Plengkung Jagabaya telah berubah dari bentuk aslinya dan kini hanya berupa gapura biasa.

Dari kelima plengkung tersebut di atas, hingga saat ini hanya Plengkung Tarunasura (Plengkung Wijilan) dan Plengkung Nirbaya (Plengkung Gading) yang masih terlihat keaslian bangunannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *